Sabtu, 16 Maret 2013

Hubungan antara Profesionalisme Guru dengan Minat Belajar Matematika Siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin



PROPOSAL SKRIPSI


NAMA                         : MARYATI
NIM                             : TM 090 694
FAKULTAS               : TARBIYAH
JURUSAN                  : TADRIS MATEMATIKA
SEMESTER               : VII (TUJUH)
JUDU                           : Hubungan antara Profesionalisme Guru dengan Minat Belajar Matematika Siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin
                                                                                                                                   
       I.            PENDAHULUAN
A.    Latar Belakang Masalah
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa, dan Negara.
1
Permasalahan pendidikan tidak hanya terletak pada siswa dan guru tetapi juga masyarakat dan pemerintah yang turut andil dalam masalah pendidikan. Maka dari itu pemerintah berusaha memperbaiki mutu pendidikan, melalui sistem pendidikan yang diciptakan pemerintah mengharapkan terbentuknya manusia Indonesia yang memiliki Sumber daya Manusia (SDM) yang tinggi diikuti oleh budi pekerti yang baik. Dengan demikian agar mutu pendidikan yang dikembangkan tetap baik maka pemerintah membuat peraturan dan perundang-undangan diantaranya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003 yang mengatur tentang Sistem Pendidikan Nasional.
Lahirnya Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, berimplikasi pada kebijakan penyelenggaraan perubahan sistem pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistis ke desentralistik.[1] Dengan diberlakukannya undang-undang tersebut, maka pengelolaan pendidikan bukan lagi berada pada wewenang pusat melainkan pada pemerintahan daerah kota/kabupaten.
Guru merupakan salah satu fasilitator yang menunjang keberhasilan pendidikan. Pendidikan yang dimaksud disini adalah proses belajar mengajar secara formal di lembaga pendidikan khususnya sekolah.
Untuk menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dan arus globalisasi yang semakin hebat, dibutuhkan guru yang visioner yang mampu mengelola proses belajar mengajar secara efektif dan inovatif. Untuk menciptakan pembelajaran yang inovatif tersebut diperlukan kreativitas dan kemampuan guru yang sedemikian rupa hingga memberikan nuansa yang menyenangkan dalam proses belajar mengajar.
Oleh karena itu keberadaan guru yang profesional tidak bisa ditawar-tawar lagi. Guru yang profesional adalah guru yang memiliki sejumlah kompetensi yang dapat menunjang tugasnya.[2]
Salah satu faktor utama untuk mencapai sukses dalam segala bidang, baik berupastudi, kerja, hobi atau aktivitas apapun adalah minat. Hal ini dengan tumbuhnya minat dalam diri seseorang akan melahirkan perhatian untuk melakukan sesuatu dengantekun dalam jangka waktu yang lama, lebih berkonsentrasi, mudah untuk mengingatdan tidak mudah bosan dengan apa yang dipelajari.
Minat adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan untuk mencapai sesuatu yang dicita-citakan. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang tidak akan mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila di dalam diri orang tersebut tidak terdapat minat atau keinginan jiwa untuk mencapai tujuan yang dicita-citakannya itu.[3]
Banyak kasus penyebab kegagalan studi disebabkan karena kurangnya minat belajar. Karena dengan adanya minat siswa akan lebih perhatian untuk melakukan segala sesuatunya, siswa akan lebih konsentrasi dan tidak mudah bosan serta lebih semangat untuk mempelajari sesuatu.
Matematika merupakan ilmu yang penuh dengan logika dan kepastian. karna itu bidang studi ini banyak ditakuti dan jarang diminati oleh siswa dijenjang pendidikan khususnya siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin. Ini disebabkan karena siswa belum mengerti pentingnya belajar matematika untuk mencapai suatu tujuan dan cita-cita, walaupun minat belajar siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 merangin pada bidang studi matematika bervariasi tetapi sebagian masih dikategorikan rendah.
Sekolah Menengah Pertama Negeri  10 Merangin merupakan salah satu dari sekian banyak sekolah menengah di Merangin yang berusaha mencetak lulusan terbaik, selain itu Sekolah ini juga masih dalam tahap menuju Sekolah Standar Nasional.
Keberhasilan untuk meningkatkan mutu lulusan dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang merupakan hasil dari proses belajar siswa yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah minat. Minat belajar yang tinggi akan berimplikasi pada hasil belajar yang baik, begitu pula dengan minat belajar yang rendah siswa akan malas belajar sehingga menyebabkan hasil belajar yang kurang memuaskan.
Oleh karena itu, untuk meningkatkan minat belajar siswa guru hendaknya menggunakan metode mengajar yang tepat, efesien dan efektif yakni dengan dilakukannya keterampilan variasi dalam menyampaikan materi. Dengan adanya minat yang timbul maka besar juga usaha untuk mempelajari pelajaran tersebut dan diharapkan siswa memperoleh hasil yang baik.
Dari pernyataan diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang berjudul: “Hubungan antara Profesionalisme Guru dengan  Minat Belajar Siswa pada Bidang Studi Matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin.



B.    Identifikasi Masalah
1.          Minimnya minat belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika karena mereka beranggapan bahwa pelajaran tersebut menakutkan.
2.          Hasil belajar yang diperoleh siswa kurang memuaskan sehingga pencapaian nilai akhir tidak sesuai dengan yang di harapkan
3.          Sebagian guru yang mengajar pada bidang matematika kurang professional, hal tersebut membuat kurangnya minat belajar siswa

C.    Batasan Masalah
Penelitian ini agar tidak menyimpang dari tujuan semula maka perlu adanya batasan masalah antara lain:
1.          Penelitian ini peneliti batasi hanya dua variabel saja, yaitu :
a.         Profesionalisme guru sebagai Independent Variabel (variabel bebas), yakni variabel yang mempengaruhi yang selanjutnya disebut variabel X.
b.         Minat belajar siswa sebagai Dependent Variabel (variabel terikat), yakni variabel yang dipengaruhi yang selanjutnya disebut variabel Y.
2.          Dalam penelitian ini yang menjadi subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas VII Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin. Tahun studi 2013/2014, Sedangkan yang menjadi obyek dari penelitian ini adalah profesionalisme guru pada bidang studi matematika.
3.          Minat belajar siswa pada bidang studi matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah keinginan untuk mengikuti dan merespon materi pelajaran yang disampaikan guru bidang studi.
4.          Profesionalisme guru dalam penelitian ini hanya dibatasi pada pandangan siswa tentang guru tauladan yang menjunjung tinggi kedisiplinan serta tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.

D.    Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang masalah diatas maka masalah yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini adalah apakah ada korelasi antara profesionalisme guru terhadap minat belajar siswa sekolah menengah pertama negeri 10 merangin.
Selanjutnya untuk menjawab pokok masalah tersebut maka dapat dijabarkan dalam tiga buah pertanyaan masalah,yaitu :
1)         Berapa besar skor profesionalisme guru matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin (X)?
2)         Berapa besar skor minat belajar matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin (Y)?
3)         Berapa signifikan korelasi profesionalisme guru dengan minat belajar siswa pada bidang studi matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin (taraf signifikan 5% - 1%)?

E.    Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.          Tujuan Penelitian
a.         Mengetahui besar skor profesionalisme guru bidang sstudi matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin.
b.        Mengetahui besar skor minat belajar siswa kelas VII dalam mengikuti pembelajaran pada bidang studi matematika Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin.
c.         Mengetahui berapa besar skor hubungan signifikan antara profesionalisme guru dengan minat belajar siswa pada bidang studi matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin.
2.          Kegunaan Penelitian
a.         Memberikan informasi kepada Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin  mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi minat belajar siswa.
b.         Sebagai bahan masukan dan informasi kepada para guru dan siswa dalam meningkatkan minat belajar siswa.
c.          Bagi peneliti dapat menambah pengalaman untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam dunia pendidikan.
d.         Untuk memenuhi persyaratan guna memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu Pendidikan Matematika pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.


     II.            LANDASAN TEORI, KERANGKA FIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.        Deskripsi Teori
Berdasarkan pada permasalahan yang di teliti hubungan antara profesionalisme guru sebagai variabel X dengan minat belajar matematika sebagai variabel Y, maka terdapat beberapa teori yang di kembangkan.
Profesionalisme berasal dari Bahasa Inggris Proffesionalism yang secara leksikal berarti sifat professional. Menurut Jasin, Anwar (Dalam Rahardjo , Dawam, 1997:35) profesionalisme dapat diartikan sebagai komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya.[4]
“… profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian”[5]

Minat adalah satu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh.[6]
Minat seorang peserta didik dapat diukur dengan seberapa senang mereka terhadap pelajaran tersebut. Jika guru dapat mengunakan metode mengajar yang tepat,efisien, dan efektif yakni dilakukan dengan keterampilan variasi dalam menyampaikan materi di kelas,maka siswa akan lebih tertarik untuk focus terhadap pelajaran tersebut.
B.         Studi Relevan
Menurut penelitian yang dilakukan 0leh Nurjana (2007) dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Profesionalisme Guru terhadap Minat Belajar Matematika Siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin. Dapat disimpulkan bahwa:

1.     Dengan menggunakan rumus prosentase, maka dapat diketahui bahwa profesionalisme guru di Sekolah Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi tergolong kategori Sedang.
2.     Dengan menggunakan rumus prosentase, dapat diketahui bahwa minat belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin tergolong kategori Sedang.
3.     Berdasarkan penelitian di lapangan dan perhitungan analisis data dengan menggunakan rumus “r” korelasi product moment dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang signifikan antara profesionalisme guru terhadap minat belajar siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin.
C.        Kerangka fikir

Keberhasilan untuk meningkatkan mutu lulusan dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang merupakan hasil dari proses belajar siswa yang dipengaruhi oleh banyak faktor. Salah satu diantaranya faktor yang paling pokok yaitu minat belajar. minat menjadi motor penggerak untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan, tanpa adanya minat belajar, tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Minat belajar tumbuh karena adanya ketertarikan siswa terhadap pelajaran dan membangkitkan semangat belajar mereka, ketertarikan ini biasanya sejalan dengan nuansa pembelajaran yang menyenangkan.
Di masa lalu dan mungkin sekarang, suasana lingkungan belajar sering dipersepsikan sebagai suatu lingkungan yang menyiksa, membosankan, kurang merangsang, dan berlangsung secara monoton sehingga anak-anak belajar secara terpaksa dan kurang beergairah.[7] Guru merupakan factor utama dalam penomena ini, metode serta gaya mengajar gurulah yang menentukan apakah proses pembelajaran yang berlangsung akan menyenangkan atau malah membosankan. Guru yang terampil dan mempunyai kreativitas tinggi akan membuat pelajaran menjadi lebih menarik sehingga pembelajaran terasa menyenangkan bagi siswa.
Oleh karena itu, peran guru sangat penting. Guru yang mempunyai jiwa kreatif dan produktif serta mempunyai etos kerja dan komitmen yang tinggi terhadap profesinya adalah salah satu ciri guru profesional.

D.         Hipotesis Penelitian
Hipotesis merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk  kalimat pertanyaan.[8]
   = Ada hubungan yang signifikan antara profesionalisme terhadap minat belajar siswa kelas VII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin (      diterima.
 = Tidak ada yang signifikan antara profesionalisme guru dengan minat belajar siswa kelas VII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin. =    ditolak.

  III.            METODE PENELITIAN
A.             Tempat Dan Waktu Penelitian
Penelitian ini dilakukan di sekolah menengah pertama negeri 10 merangin pada semester 2 (genap) waktu penelitian dilakukan pada bulan maret.
B.             Metode dan Desain Penelitian
1.              Metode yang digunakan
Dalam penelitian ini metode yang digunakan adalah metode kuantitatif. Dengan menganalisis hubungan yang terjadi antara variabel X dan variabel Y.  
2.              Desain penelitian
Berdasarkan dari judul yang telah di paparkan diatas, maka berbentuk desainnya sebagai berikut:
 X                   Y
(X                Y)        
X = Y
   Keterangan :
   X = profesionalisme guru
   Y = minat belajar matematika
Ada hubungan, apa bila skor X sama dengan Y atau saling mendekat.

C.             Populasi dan Sampel
1.              Populasi
Populasi adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.[9]
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII di Sekolah Menengah Negeri 10 Merangin  yang berjumlah 229  siswa yang terbagi dalam 7 (Tujuh) kelas.
Tabel 1: Jumlah Siswa Siswi Kelas VII di Sekolah Menengah Negeri 10 Merangin[10]
No.
Kelas
Jenis Kelamin
Jumlah
Laki-laki
Perempuan
1.
VII A
13
20
33
2.
VII B
15
18
33
3.
VII C
20
12
32
4.
VII D
20
14
34
5.
VII E
12
20
32
6.
VII F
15
17
32
7.
VII G
15
18
33
Jumlah
110
119
229

2.              Sampel
Sampel adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.[11] Setelah dilakukan homoenitas kelas dengan mengaambil hasil belajar yang diperoleh siswa melalui ulangan semester kemudian peneliti mengambil ukuran sampel dengan rumus: 
Keterangan:
N = jumlah sampel
N = jumlah populasi
d2 = presisi yang ditetapkan (10%)[12]
Dari jumlah pupolasi maka didapat ukuran sampel adalah 70 orang. Untuk lebih jelasnya berikut rincian ukuran sampel setiap kelas :
No.
Kelas
Populasi
Rumus
Sampel
1.
VII A
33
10
2.
VII B
33
10
3.
VII C
32
10
4.
VII D
34
10
5.
VII E
32
10
6.
VII F
32
10
7.
VII G
33
10
Jumlah
229

70
Tabel 2 : Ukuran sampel setiap Kelas







          Ternyata setelah dilakukan pencarian sampel setiap kelas dengan proposional didapat sampel sebesar 70. Kemudian setelah diketahui ukuran sampel setiap kelas maka sampel diambil dari masing-masing kelas dengan cara acak (sampel random sampling) sehingga setiap siswa mendapat peluang yang sama untuk menjadi sampel.


D.             Instrument penelitian
1.         Minat Belajar
a.     Definisi konseptual
Pada hakekatnya secara psikis seseorang memiliki suatu kegiatan pada dirinya berbeda-beda, misalnya motivasi, minat, bakat dan sebagainya. Sedangkan minat sendiri merupakan ungkapan psikis yang sangat penting untuk mencapai suatu kebutuhan manusia.[13]
Minat adalah satu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasar adalah penerimaan akan suatu hubungan antara diri sendiri.[14]
 “Minat (interest) berarti kecendrungan dan kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat tidak termasuk istilah popular dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak pada factor-faktor internal lainnya seperti: pemusatan perhatian, keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan”.[15]
Minat pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri dengan sesuatu di lur diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin besar minatnya.[16]
Minat mempunyai andil yang sangat besar dan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya nilai prestasi belajar dan kerja seseorang.[17]  
Tanpa adanya minat belajar, siswa tidak akan dapat menerima pelajaran yang diberikan oleh guru secara maksimal, sehinnga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai secara optimal.
“Sedangkan belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mana suatu kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi, dengan keadan bahwa karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas tersebut tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecendrungan-kecendrungan reaksi asli, kematangan, atau perubahan sementara dari organisme.[18]



Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas. Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan seseorang secara ilmiah.[19]
Belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi sebagai buah dari kegiatan belajar yang diperoleh oleh peserta didik melalui proses pembelajaran di kelas. Proses perubahan perilaku tersebut ditunjukkan oleh peserta didik menjadi tahu, menjadi terampil, menjadi berbudi, dan menjadi manusia yang mampumenggunakan akal pikirannya sebelum bertindak dan mengambil keputusan untuk melakuakan sesuatu.[20]
Minat belajar merupakan suatu sikap tertentu yang sangat pribadi pada seseorang yang ingin belajar. Minat belajar harus ditumbuhkan sendiri oleh masing-masing anak. Pihak lain hanya memperkuat, menumbuhkan dan memelihara minat yang telah dimiliki seseorang.
Lester & Alice Crow dalam Loekmono mengemukakan lima butir motif penting yang dapat dijadikan alasan–alasan untuk mendorong tumbuhnya minat belajar dalam diri seseorang yakni:
1)         Suatu hasrat keras untuk memperoleh nlai-nilai yang lebih baik dalam semua mata pelajaran
2)         Suatu dorongan batin memuaskan rasa ingin tahu dalam satu bidang atau lain bidang studi
3)         Hasrat untuk meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi
4)         Hasrat untuk menerima pujian dari orang tua, guru dan teman-teman
5)         Gambaran diri di masa mendatang untuk meraih sukses dalam bidang khusus tertentu.[21]
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disintesis bahwa minat belajar adalah pernyataan psikis yang membuat seseorang berkeinginan memusatkan perhatian untuk mempelajari sesuatu guna mencapai tujuan belajar. Oleh karena itu seorang guru dalam menyampaikan pelajaran harus mampu membuat siswa senang dalam belajar. Dengan timbulnya minat yang besar maka besar juga usaha untuk mempelajari pelajaran tersebut dan diharapkan siswa memperoleh hasil belajar yang maksimal.
b.     Definisi Operasional
Setiap siswa yang menuntut ilmu harus memiliki konsentrasi dalam belajar. Konsentrasi dalam belajar adalah pemusatan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran tersebut. Tanpa konsentrasi siswa tidak akan bisa menguasai pelajarannya.
Konsentrasi tidak ada atau akan berkurang bilamana tidak terdapat minat yang memadai dalam diri siswa tersebut. Dari situ dapat diketahui betapa pentingnya minat untuk mencapai sukses dalam segala hal.
Tabel 3 ; Kisi-Kisi Minat Belajar
Variabel
Dimensi
Indikator
No.Item
Jumlah
+
-
Minat Belajar
a. Keinginan dan Hasrat
·   Adanya keinginan untuk belajar
·   Mengulang pelajaran di rumah
1,2

4
3

5
5
b. Perhatian dan ketertarikan
·   Adanya perhatian terhadap pembelajaran
·   Ada rasa ingin tahu terhadap materi yang tidak dimengerti
6,7

10,11
8,9

12,13
8
c. Kecenderungan
·   Hadir tepat waktu
·   Mengerjakan setiap tugas yang diberikan
14
16,17
15
18
5
d. Kepuasan
·   Ingin mendapat penghargaan dan pujian dalam belajar
·   Adanya harapan dalam mengikuti pelajaran dan cita-cita untuk sukses dalam belajar
·   Ada rasa bangga terhadap nilai yang tinggi
19


21



23,24
20


22



25
7
Jumlah
14
11
25

2.         Profesionalisme Guru
a.          Definisi Konseptual
Profesionalisme berasal dari Bahasa Inggris Proffesionalism yang secara leksikal berarti sifat professional. Menurut Jasin, Anwar (Dalam Rahardjo , Dawam, 1997:35) profesionalisme dapat diartikan sebagai komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya.[22]

“… profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang. Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian”[23]

“Profesionalisme” adalah sikap seorang professional yang menjunjung tinggi kemampuan profesinya,ia akan bekerja dan mengerjakan sesuatu sesuai bidangnya.[24]
Profesional adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.[25]
Dari beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disintesis bahwa profesionalisme guru artinya seseorang yang bekerja dengan keahlian serta kemahirannya dalam mejalankan profesi sebagai seorang guru.
Guru adalah jabatan professional yang memerlukan berbagai keahlian khusus. Sebagai suatu profesi, jabatan guru menuntut kriteria professional sebagai berikut:
1)              Fisik
a)         Sehat Jasmani
b)         Tidak mempunyai cacat tubuh yang bisa menimbulkan ejekan/cemooh atau rasa kasihan dari anak didik.
2)              Mental / kepribadian
a)         Berkepribadian.
b)         Berbudi pekerti luhur.
c)         Berjiwa kreatif, dapat memanfaatkan rasa pendidikan yang ada secara maksimal
d)         Mampu menyalurkan sikap demokrasi dan  penuh tenggang rasa
e)         Mampu mengembangkan kreativitas dan tanggung jawab yang besar akan tugasnya.
f)           Mampu mengembangkan kecerdasan yang tinggi.
g)         Bersifat terbuka, peka dan inovatif.
h)         Menunjukkan rasa cinta terhadap profesinya.
i)           Memiliki kedisiplinan yang tinggi.
j)           Memiliki sense of humor
3)              Keilmiahan/pengetahuan
a)         Memahami ilmu yang dapat melandasi pembentukan pribadi
b)         Memahami ilmu pendidikan dan keguruan serta mampu menerapkannya dalam tugasnya sebagai pendidik.
c)         Memahami, menguasai, serta mencintai ilmu pengetahuan yang akan diajarkan.
d)         Memiliki pengetahuan yang cukup tentang bidang-bidang yang lain.
e)         Senang membaca buku-buku ilmiah.
f)           Mampu memecahkan masalah secara sistematis, terutama yang berhubungan dengan bidang studi.
g)         Memahami prinsip kegiatan belajar mengajar

4)              Keterampilan
a)         Mampu menyusun bahan pelajaran atas dasar pendekatan structural, interdialpliner, fungsional, behavior, dan teknologi.
b)         Mampu menyusun Garis Besar Program Pengajaran (GBPP)
c)         Mampu memecahkan dan melaksanakan teknik mengajar yang baik dalam mencapai tujuan pendidikan.
d)         Mampu merencanakan dan melaksanakan evaluasi pendidikan.
e)         Memahami dan mampu melaksanakan kegiatan dan pendidikan luar sekolah.[26]

b.         Definisi Operasional
Profesionalisme yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan memelihara citra profesi melalui perwujudan prilaku profesional. Perwujudan dilakukan melalui berbagai cara, misalnya penampilan, cara bicara, penggunaan bahasa, sikap hidup sehari-hari, hubungan antar pribadi, dan sebagainya.
             Tabel 4 ; Kisi-Kisi Profesionalisme Guru
Variabel
Dimensi
Indikator
No.Item
Jumlah
+
-
Profesionalisme guru
a. Kepribadian dan tingkah laku
·   Memiliki disiplin yang tinggi
·   Berpenampilan rapi saat mengajar
·   Bertanggung jawab atas tugasnya
·   Membimbing siswa yang belum mengerti
1,2

4,5

7,8

11
3

6

9,10

12
12
b. Keahlian dan pengetahuan
·   Memahami materi yang diajarkan
·   Mampu menjelaskan pelajaran dengan baik
·   Mampu menerangkan pelajaran dengan bahasa yang mudah dimengerti siswa
13,14

16

18,19
15

17

20
8
c. Keterampilan dan kreativitas
·   Menguasai kelas dengan baik
·   Memiliki sense of humor
21

24
22,23

25
5
Jumlah
14
11
25

Pernyataan yang peneliti ajukan berbentuk skala (Skala Likert). Setiap item pernyataan angket diberikan lima alternatif jawaban, baik pernyataan positif maupun negatif seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5 : Penetapan Skor Jawaban Angket
Pernyataan Sikap
Selalu (SS)
Sering (SR)
Kadang-Kadang (KK)
Hampir Tidak Pernah (HTP)
Tidak Pernah (TP)
Pernyataan positif (+)
5
4
3
2
1
Pernyataan negatif (-)
1
2
3
4
5

Sebelum angket disebarkan kepada sampel, maka terlebih dahulu diuji validitas dan reliabilitas angket.
1.         Validitas Angket
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti mempunyai validitas rendah.[27]
Rumus yang digunakan untuk menghitung validitas adalah korelasi product moment: [28]
Keterangan :
rxy                     = Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
          = Jumlah Skor asli  variabel X
         =Jumlah Skor asli  variabel Y
N               =      Jumlah Subyek
=   Jumlah perkalian X dengan Y
=      Jumlah kuadrat nilai X
   =      Jumlah kuadrat nilai Y
Kemudian hasil rxy hitung dikonsultasikan dengan r tabel dengan taraf signifikan 5 %. Jika didapatkan harga rxy hitung > r tabel, maka butir instrumen dapat dikatakan valid, akan tetapi sebelumnya jika harganya rxy < r tabel, maka dikatakan bahwa instrumen tersebut tidak valid.[29]
2.         Reliabilitas Angket
Reliabilitas menunjuk pada suatu pengetian bahwa sesuatu instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data karena instrumen tersebut sudah baik.[30]
Uji reliabilitas angket dilakukan dengan menggunakan metode Alpha [31]
Langkah – langkah mencari nilai reliabilitas dengan metode Alpha sebagai berikut:
1.              Menghitung varians skor tiap-tiap item dengan rumus:
 
2.              Menjumlahkan varians semua item dengan rumus:
   
3.              Menghitung varian total dengan rumus:
 
4.              Masukkan nilai Alpha dengan rumus:
 

E.              Teknik Analisis Data
Untuk menguji kebenaran hipotesis dan menjawab rumusan yang telah diajukan maka dilakukan analisis data. Namun sebelum analisis data lebih lanjut maka terlebih dahulu perlu dilakukan uji normalitas, uji homogenitas, uji linieritas.









1.              Uji Normalitas, Uji Homogenitas, dan Uji Linieritas
a.          Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah untuk melihat sampel berdistribusi normal atau tidak. Uji yang digunakan adalah dengan menggunakan rumus uji Chi Kuadrat yaitu :
χ2 =

Langkah-langkah perhitungannya :
1)         Menentukan skor besar (H) dan skor kecil (L)
2)         Menentukan Rentangan (R)
R = H – L + 1
3)         Menentukan Banyaknya Kelas (BK)
BK = 1+ 3,3 log N
4)         Menentukan panjang kelas (i)
 i =
5)         Menentukan rata-rata atau mean ( )
        =
6)       Menentukan simpangan baku (S)
       S =
7)         Membuat daftar yang diharapkan dengan jalan sebagai berikut :
a)        Menentukan batas kelas yaitu angka skor kiri kelas interval pertama   dikurangi 0,5 dan kemudian angka skor kanan kelas interval ditambah 0,5.
b)        Mencari nilai Z-Score untuk batas kelas interval dengan rumus:
Z =
c)        Mencari luas 0-Z dari tabel kurva normal dari 0-Z dengan menggunakan angka-angka untuk batas kelas.
d)        Mencari luas setiap kelas interval dengan jalan mengurangkan angka-angka 0-Z, yaitu angka baris pertama dikurangi baris kedua, angka baris kedua dikurangi baris ketiga dst.
e)        Mencari frekuensi yang diharapkan (fe) dengan cara mengalikan luas tiap interval dengan jumlah responden.
f)         Mencari Chi kuadrat (χ2 hitung) dengan rumus :
(χ 2) =
g)        Membandingkan (χ 2hitung ) dengan (χ 2tabel),
                db = k - 3, dan α = 0,05
                Jika, χ2hitung ≥ χ 2tabel, maka distribusi data tidak normal,
                Jika, χ 2hitung  χ 2tabel maka distribusi data  normal.[32]




b.         Uji Homogenitas

       Uji homogenitas dilakukan untuk melihat apakah kedua kelompok sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak. Uji homogenitas yang penulis gunakan adalah uji bartlet.
Langkah perhitungannya :
1)             Masukkan angka-angka statistik untuk pengujian homogenitas pada tabel Uji Bartlet.
2)              
3)             Menghitung varians dengan rumus :
S2 =
4)             Menghitung log S2
5)             Menghitung nilai B = (log S2).∑(ni-1)
6)             Menghitung nilai χ2hitung = (log 10)[B - ∑ (db) log Si2]
7)             Bandingkan χ 2hitung dengan nilai χ 2tabel, untuk α = 0,05 dan derajat kebebasan (db) = k – 1, dengan kriteria pengujian sebagai berikut :
Jika : χ 2hitung ≥ χ 2tabel, tidak homogen
Jika : χ 2hitung ≤ χ 2tabel, homogen.[33]
c.     Uji Linieritas Regresi
Uji linearitas regresi pada penelitian ini menggunakan rumus anava, dengan langgah-langkah sebagai berikut :
1.         Menentukan jumlah kuadrat regresi dengan rumus
2.         Menentukan jumlah kuadrat regresi dengan rumus
3.         Menentukan jumlah kuadrat residu dengan rumus
4.         Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi dengan rumus
5.         Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi dengan rumus
6.         Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi dengan rumus
7.         Menghitung jumlah kuadrat error dengan rumus  
8.         Menghitung jumlah kuadrat tuna cocok dengan rumus  
9.         Menghitung rata-rata jumlah kuadrat tuna cocok dengan rumus  
10.      Menghitung rata-rata jumlah kuadrat error dengan rumus
11.      Mencari nilai  dengan rumus
12.      Menentukan Keputusan Pengujian : Jika ≤ , artinya data berpola linier dan jika ≥ , artinya data berpola tidak linier
13.      Mencari nilai  menggunakan tabel F dengan rumus
14.      Membandingkan nilai dengan , kemudian disimpulkan.[34]
2.       Teknik Korelasi Kontingensi
Analisis data yang dimaksud untuk melakukan pengujian hipotesis dan menjawab permasalahan yang telah diajukan. Variabel dalam penelitian ini adalah skor profesionalisme guru sebagai variabel X dan skor minat belajar sebagai variabel Y.
Dalam penelitian ini, untuk mencari ada tidaknya hubungan yang signifikan antara variabel X dan variabel Y digunakan rumus koefisien korelasi kontingensi (C).[35]
Keterangan :
C             =      Koefisien Kontingensi
           =      Kai Kuadrat
N             =      Jumlah Data
dapat diperoleh dengan menggunakan rumus :
       Untuk memberikan interpretasi kepada angka indeks korelasi kontingensi (C), terlebih dahulu mengubah harga C menjadi phi, dengan rumus :
 
Keterangan :
         =  Koefisien Phi
C           =  Koefisien Kontingensi
F.              Hipotesis statistic
 :   berarti tidak ada hubungan yang signifikan antara profesionalisme guru dengan minat belajar matematika siswa.
 : “tidak sama dengan nol”, berarti lebih besar atau kurang (-) dari nol. Berarti ada hubungan yang signifikan antara profesionalisme guru dengan minat belajar matematika siswa.
 = nilai korelasi dalam formulasi = nilai korelasi dalam formulasi  dihipotesiskan. [36]


G.             Jadwal Penelitian
Jadwal penelitian ini dirancang untuk memudahkan penulis dalam melakukan penelitian, maka peneliti menyusun agenda penelitian secara sistimatis seperti terlihat pada tabel berikut.
Tabel 6 : Jadwal Penelitian*
No
Kegiatan
Bulan
Januari 2013
Febuari 2013
Maret
2013
April 2013
Mei 2013
1
2
3
4
1
2
3
4
1
2
3
4
5
1
2
3
4
1
2
3
4
1
Pembuatan proposal


















2
Pengurusan dosen pembimbing



















3
Perbaikan proposal



















4
Seminar proposal




















5
Perbaikan hasil seminar proposal


















6
Riset lapangan

















7
Penyusunan data



















8
Penulisan skripsi


















9
Perbaikan skripsi



















10
Penyempurnaan skripsi












































*jadwal bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi dan kebutuhan




[1] Wina Sanjaya, Perencanaan dan Desain Sistem Pembelajaran. Jakarta: Kencana, 2009, h.79
[2] Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
[4]   Fachruddin Saudagar dan  Ali Idrus. Pengembangan Profesionalitas Guru, Jakarta: Gaung    persada, 2009, h. 96
[5] Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2009 , h.46
[6] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinnya, Jakarta: Rineka Cipta, 2010, hlm.182
[7] Kunandar. Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru, Jakarta: Rajawali Pers, 2009, hlm. 42
[8] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Bandung: Alfabeta, 2010, hlm. 96
[9] Sugiyono, Op. Cit. hlm. 117
[10] Dokumentasi SMP Negeri 10 merangin
[11] Suharsimi Arikunto, Op.Cit, h.111
[12] Dr. Ridwan, M.B.A., M.Pd. Metode dan Teknik Menyusun Tesis,   Bandung: Alfabeta, 2010. Hlm.65
[13]http://www.pdfgemi.com/download/PENGARUH+FAKTOR+INTERN+DAN++FAKTOR+EKSTERN+TERHADAP+MINAT+BELAJAR+...-UURL-digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH0164/b2428c0f.dir/doc.pdf.html,
[diakses tanggal 13 Juni 2012  pkl. 13:10]
[14] Slameto, Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinnya, Jakarta: Rineka Cipta, 2010, hlm.182
[15]  Muhibbin Syah. Psikologi Belajar, Jakarta: Rajawali Pres, 2010, Hlm.152
[16] Djaali, Psikologi Pendidikan, Yogyakarta: Bumi Aksara, 2009, hlm.121
[17] Indri Shaffat, Optimized Learning Strategy, Jakarta: Prestasi Pustaka, 2009, hlm.47
[18] Iskandar, Psikologi Pendidikan (Sebuah orientasi Baru). Ciputat : Gaung Persada Press. 2009. hlm.102
[19] Ibid. hlm. 2
[20] Abdul Hadis dan Nurhayati, Op.Cit, hh.2-3
[21]http://www.pdfgemi.com/download/PENGARUH+FAKTOR+INTERN+DAN++FAKTOR+EKSTERN+TERHADAP+MINAT+BELAJAR+...-UURL-digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH0164/b2428c0f.dir/doc.pdf.html, [diakses tanggal 13 Juni 2012 pkl. 13:10]
[22]   Fachruddin Saudagar dan  Ali Idrus. Pengembangan Profesionalitas Guru, Jakarta: Gaung    persada, 2009, h. 96
[23] Kunandar, Guru Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2009 , h.46
[24] http://geografi.upi.edu/?mod=article/view/12, [diakses tanggal 13 Juni 2012 pkl. 13:50]
[25] Iskandar, Psikologi Pendidikan Sebuah Orientasi Baru, Jakarta: Gaung Persada Press, 2009, h.9
[26] Hartono M. Joko Susito. Pemberontakan Guru Menuju Peningkatan Kualitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hh.34-35
[27] Suharsimi Arikunto, Op.Cit., hlm 144
[28] Anas Sudijono. Pengantar Statistik Pendidikan,Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2009, hlm.275  
[29] Ibid
[30] Ibid, hlm 154
[31] Dr. Ridwan, M.B.A., M.Pd. Belajar Mudah Penelitian, Bandung: Alfabeta, 2011. Hlm.115
[32] Ibid, h.187
[33]Ibid, h.184
[34] Riduwan. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru- Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung : Alfabeta, 2011, hlm.126-129
[35] Anas Sudijono. Op.Cit, hh.253-257
[36] Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan ( pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan R&D), (Bandung: Alfabeta, 2012) ,hlm 104

Tidak ada komentar:

Posting Komentar