PROPOSAL SKRIPSI
NAMA : MARYATI
NIM : TM 090 694
FAKULTAS : TARBIYAH
JURUSAN : TADRIS MATEMATIKA
SEMESTER : VII (TUJUH)
JUDU : Hubungan antara Profesionalisme Guru dengan Minat
Belajar Matematika Siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin
I.
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pendidikan
adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses
pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya
untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta ketrampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa, dan Negara.
|
1
|
Lahirnya
Undang-Undang No. 20 Tahun 2003, berimplikasi pada kebijakan penyelenggaraan
perubahan sistem pengelolaan pendidikan dari yang bersifat sentralistis ke
desentralistik.[1]
Dengan diberlakukannya undang-undang tersebut, maka pengelolaan pendidikan
bukan lagi berada pada wewenang pusat melainkan pada pemerintahan daerah
kota/kabupaten.
Guru
merupakan salah satu fasilitator yang menunjang keberhasilan pendidikan.
Pendidikan yang dimaksud disini adalah proses belajar mengajar secara formal di
lembaga pendidikan khususnya sekolah.
Untuk
menghadapi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang semakin canggih dan
arus globalisasi yang semakin hebat, dibutuhkan guru yang visioner yang mampu
mengelola proses belajar mengajar secara efektif dan inovatif. Untuk
menciptakan pembelajaran yang inovatif tersebut diperlukan kreativitas dan
kemampuan guru yang sedemikian rupa hingga memberikan nuansa yang menyenangkan
dalam proses belajar mengajar.
Oleh
karena itu keberadaan guru yang profesional tidak bisa ditawar-tawar lagi. Guru
yang profesional adalah guru yang memiliki sejumlah kompetensi yang dapat
menunjang tugasnya.[2]
Salah
satu faktor utama untuk mencapai sukses dalam segala bidang, baik berupastudi,
kerja, hobi atau aktivitas apapun adalah minat. Hal ini dengan tumbuhnya minat
dalam diri seseorang akan melahirkan perhatian untuk melakukan sesuatu
dengantekun dalam jangka waktu yang lama, lebih berkonsentrasi, mudah untuk
mengingatdan tidak mudah bosan dengan apa yang dipelajari.
Minat
adalah keinginan jiwa terhadap sesuatu objek dengan tujuan untuk mencapai
sesuatu yang dicita-citakan. Hal ini menggambarkan bahwa seseorang tidak akan
mencapai tujuan yang dicita-citakan apabila di dalam diri orang tersebut tidak
terdapat minat atau keinginan jiwa untuk mencapai tujuan yang dicita-citakannya
itu.[3]
Banyak
kasus penyebab kegagalan studi disebabkan karena kurangnya minat belajar.
Karena dengan adanya minat siswa akan lebih perhatian untuk melakukan segala
sesuatunya, siswa akan lebih konsentrasi dan tidak mudah bosan serta lebih
semangat untuk mempelajari sesuatu.
Matematika
merupakan ilmu yang penuh dengan logika dan kepastian. karna itu bidang studi
ini banyak ditakuti dan jarang diminati oleh siswa dijenjang pendidikan
khususnya siswa Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin. Ini disebabkan
karena siswa belum mengerti pentingnya belajar matematika untuk mencapai suatu
tujuan dan cita-cita, walaupun minat belajar siswa Sekolah Menengah Pertama
Negeri 10 merangin pada bidang studi matematika bervariasi tetapi sebagian
masih dikategorikan rendah.
Sekolah
Menengah Pertama Negeri 10 Merangin
merupakan salah satu dari sekian banyak sekolah menengah di Merangin yang
berusaha mencetak lulusan terbaik, selain itu Sekolah ini juga masih dalam
tahap menuju Sekolah Standar Nasional.
Keberhasilan
untuk meningkatkan mutu lulusan dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang
merupakan hasil dari proses belajar siswa yang dipengaruhi oleh banyak faktor.
Salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar adalah minat. Minat belajar
yang tinggi akan berimplikasi pada hasil belajar yang baik, begitu pula dengan
minat belajar yang rendah siswa akan malas belajar sehingga menyebabkan hasil
belajar yang kurang memuaskan.
Oleh
karena itu, untuk meningkatkan minat belajar siswa guru hendaknya menggunakan
metode mengajar yang tepat, efesien dan efektif yakni dengan dilakukannya
keterampilan variasi dalam menyampaikan materi. Dengan adanya minat yang timbul
maka besar juga usaha untuk mempelajari pelajaran tersebut dan diharapkan siswa
memperoleh hasil yang baik.
Dari
pernyataan diatas maka penulis tertarik untuk mengadakan penelitian yang
berjudul: “Hubungan antara
Profesionalisme Guru dengan Minat
Belajar Siswa pada Bidang Studi Matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri
10 Merangin.
B. Identifikasi Masalah
1.
Minimnya minat
belajar siswa terhadap mata pelajaran matematika karena mereka beranggapan
bahwa pelajaran tersebut menakutkan.
2.
Hasil belajar yang
diperoleh siswa kurang memuaskan sehingga pencapaian nilai akhir tidak sesuai
dengan yang di harapkan
3.
Sebagian guru yang
mengajar pada bidang matematika kurang professional, hal tersebut membuat
kurangnya minat belajar siswa
C. Batasan Masalah
Penelitian
ini agar tidak menyimpang dari tujuan semula maka perlu adanya batasan masalah
antara lain:
1.
Penelitian ini
peneliti batasi hanya dua variabel saja, yaitu :
a.
Profesionalisme guru
sebagai Independent Variabel (variabel
bebas), yakni variabel yang mempengaruhi yang selanjutnya disebut variabel X.
b.
Minat belajar siswa
sebagai Dependent Variabel (variabel
terikat), yakni variabel yang dipengaruhi yang selanjutnya disebut variabel Y.
2.
Dalam penelitian ini
yang menjadi subjek penelitian adalah siswa-siswi kelas VII Sekolah Menengah
Pertama Negeri 10 Merangin. Tahun studi 2013/2014, Sedangkan yang menjadi obyek
dari penelitian ini adalah profesionalisme guru pada bidang studi matematika.
3.
Minat belajar siswa
pada bidang studi matematika yang dimaksud dalam penelitian ini adalah
keinginan untuk mengikuti dan merespon materi pelajaran yang disampaikan guru
bidang studi.
4.
Profesionalisme guru
dalam penelitian ini hanya dibatasi pada pandangan siswa tentang guru tauladan
yang menjunjung tinggi kedisiplinan serta tanggung jawab dalam melaksanakan
tugasnya.
D. Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang
masalah diatas maka masalah yang ingin dipecahkan dalam penelitian ini adalah apakah
ada korelasi antara profesionalisme guru terhadap minat belajar siswa sekolah
menengah pertama negeri 10 merangin.
Selanjutnya untuk menjawab pokok
masalah tersebut maka dapat dijabarkan dalam tiga buah pertanyaan masalah,yaitu
:
1)
Berapa besar skor
profesionalisme guru matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin
(X)?
2)
Berapa besar skor
minat belajar matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin (Y)?
3)
Berapa signifikan
korelasi profesionalisme guru dengan minat belajar siswa pada bidang studi
matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin (taraf signifikan 5%
- 1%)?
E.
Tujuan dan Kegunaan Penelitian
1.
Tujuan Penelitian
a.
Mengetahui besar skor
profesionalisme guru bidang sstudi matematika di Sekolah Menengah Pertama
Negeri 10 Merangin.
b.
Mengetahui besar skor
minat belajar siswa kelas VII dalam mengikuti pembelajaran pada bidang studi
matematika Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin.
c.
Mengetahui berapa
besar skor hubungan signifikan antara profesionalisme guru dengan minat belajar
siswa pada bidang studi matematika di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10
Merangin.
2.
Kegunaan Penelitian
a.
Memberikan informasi
kepada Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi
minat belajar siswa.
b.
Sebagai bahan masukan
dan informasi kepada para guru dan siswa dalam meningkatkan minat belajar
siswa.
c.
Bagi peneliti dapat
menambah pengalaman untuk mengembangkan ilmu pengetahuan dalam dunia
pendidikan.
d.
Untuk memenuhi
persyaratan guna memperoleh gelar sarjana Strata Satu (S1) dalam Ilmu
Pendidikan Matematika pada Fakultas Tarbiyah Institut Agama Islam Negeri
Sulthan Thaha Saifuddin Jambi.
II.
LANDASAN
TEORI, KERANGKA FIKIR, DAN PENGAJUAN HIPOTESIS
A.
Deskripsi Teori
Berdasarkan
pada permasalahan yang di teliti hubungan antara profesionalisme guru sebagai
variabel X dengan minat belajar matematika sebagai variabel Y, maka terdapat
beberapa teori yang di kembangkan.
Profesionalisme
berasal dari Bahasa Inggris Proffesionalism
yang secara leksikal berarti sifat professional. Menurut Jasin, Anwar
(Dalam Rahardjo , Dawam, 1997:35) profesionalisme dapat diartikan sebagai
komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya
dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam
melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya.[4]
“…
profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang.
Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan
dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian”[5]
Minat
adalah satu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh.[6]
Minat
seorang peserta didik dapat diukur dengan seberapa senang mereka terhadap
pelajaran tersebut. Jika guru dapat mengunakan metode mengajar yang
tepat,efisien, dan efektif yakni dilakukan dengan keterampilan variasi dalam
menyampaikan materi di kelas,maka siswa akan lebih tertarik untuk focus
terhadap pelajaran tersebut.
B.
Studi
Relevan
Menurut
penelitian yang dilakukan 0leh Nurjana (2007) dalam skripsinya yang berjudul “Pengaruh Profesionalisme Guru
terhadap Minat Belajar Matematika Siswa di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10
Merangin. Dapat disimpulkan
bahwa:
1.
Dengan menggunakan
rumus prosentase, maka dapat diketahui bahwa profesionalisme guru di Sekolah
Menengah Pertama Negeri 7 Muaro Jambi tergolong kategori Sedang.
2.
Dengan menggunakan
rumus prosentase, dapat diketahui bahwa minat belajar siswa di Sekolah Menengah
Pertama Negeri 10 Merangin tergolong kategori Sedang.
3.
Berdasarkan
penelitian di lapangan dan perhitungan analisis data dengan menggunakan rumus
“r” korelasi product moment dapat disimpulkan bahwa terdapat pengaruh yang
signifikan antara profesionalisme guru terhadap minat belajar siswa di Sekolah
Menengah Pertama Negeri 10 Merangin.
C.
Kerangka fikir
Keberhasilan
untuk meningkatkan mutu lulusan dapat dilihat dari hasil belajar siswa yang
merupakan hasil dari proses belajar siswa yang dipengaruhi oleh banyak faktor.
Salah satu diantaranya faktor yang paling pokok yaitu minat belajar. minat
menjadi motor penggerak untuk dapat mencapai tujuan yang diinginkan, tanpa
adanya minat belajar, tujuan pembelajaran tidak akan tercapai. Minat belajar
tumbuh karena adanya ketertarikan siswa terhadap pelajaran dan membangkitkan
semangat belajar mereka, ketertarikan ini biasanya sejalan dengan nuansa
pembelajaran yang menyenangkan.
Di
masa lalu dan mungkin sekarang, suasana lingkungan belajar sering dipersepsikan
sebagai suatu lingkungan yang menyiksa, membosankan, kurang merangsang, dan
berlangsung secara monoton sehingga anak-anak belajar secara terpaksa dan
kurang beergairah.[7]
Guru merupakan factor utama dalam penomena ini, metode serta gaya mengajar
gurulah yang menentukan apakah proses pembelajaran yang berlangsung akan
menyenangkan atau malah membosankan. Guru yang terampil dan mempunyai
kreativitas tinggi akan membuat pelajaran menjadi lebih menarik sehingga pembelajaran
terasa menyenangkan bagi siswa.
Oleh
karena itu, peran guru sangat penting. Guru yang mempunyai jiwa kreatif dan
produktif serta mempunyai etos kerja dan komitmen yang tinggi terhadap
profesinya adalah salah satu ciri guru profesional.
D.
Hipotesis
Penelitian
Hipotesis
merupakan jawaban sementara terhadap rumusan masalah penelitian, dimana rumusan
masalah penelitian telah dinyatakan dalam bentuk kalimat pertanyaan.[8]
=
Ada hubungan yang signifikan antara profesionalisme terhadap minat belajar
siswa kelas VII di Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin (
diterima.
= Tidak ada yang
signifikan antara profesionalisme guru dengan minat belajar siswa kelas VII di
Sekolah Menengah Pertama Negeri 10 Merangin. =
ditolak.
III.
METODE
PENELITIAN
A.
Tempat
Dan Waktu Penelitian
Penelitian
ini dilakukan di sekolah menengah pertama negeri 10 merangin pada semester 2
(genap) waktu penelitian dilakukan pada bulan maret.
B.
Metode
dan Desain Penelitian
1.
Metode
yang digunakan
Dalam penelitian ini metode yang
digunakan adalah metode kuantitatif. Dengan menganalisis hubungan yang terjadi
antara variabel X dan variabel Y.
2.
Desain
penelitian
Berdasarkan
dari judul yang telah di paparkan diatas, maka berbentuk desainnya sebagai
berikut:
X Y
(X Y)
X
= Y
Keterangan :
X = profesionalisme guru
Y =
minat belajar matematika
Ada hubungan, apa bila skor X sama dengan Y
atau saling mendekat.
C.
Populasi
dan Sampel
1.
Populasi
Populasi
adalah wilayah generalisasi yang terdiri atas obyek atau subyek yang mempunyai
kualitas dan karakteristik tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk
dipelajari dan kemudian ditarik kesimpulan.[9]
Populasi
dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas VII di Sekolah Menengah Negeri
10 Merangin yang berjumlah 229 siswa yang terbagi dalam 7 (Tujuh) kelas.
Tabel 1: Jumlah Siswa Siswi Kelas VII
di Sekolah Menengah Negeri 10 Merangin[10]
|
No.
|
Kelas
|
Jenis
Kelamin
|
Jumlah
|
|
|
Laki-laki
|
Perempuan
|
|||
|
1.
|
VII
A
|
13
|
20
|
33
|
|
2.
|
VII
B
|
15
|
18
|
33
|
|
3.
|
VII
C
|
20
|
12
|
32
|
|
4.
|
VII
D
|
20
|
14
|
34
|
|
5.
|
VII
E
|
12
|
20
|
32
|
|
6.
|
VII
F
|
15
|
17
|
32
|
|
7.
|
VII
G
|
15
|
18
|
33
|
|
Jumlah
|
110
|
119
|
229
|
|
2.
Sampel
Sampel
adalah sebagian atau wakil populasi yang diteliti.[11]
Setelah dilakukan homoenitas kelas dengan mengaambil hasil belajar yang
diperoleh siswa melalui ulangan semester kemudian peneliti mengambil ukuran
sampel dengan rumus:
Keterangan:
N
= jumlah sampel
N
= jumlah populasi
d2
= presisi yang ditetapkan (10%)[12]
Dari
jumlah pupolasi maka didapat ukuran sampel adalah 70 orang. Untuk lebih
jelasnya berikut rincian ukuran sampel setiap kelas :
|
No.
|
Kelas
|
Populasi
|
Rumus
|
Sampel
|
|
1.
|
VII
A
|
33
|
|
10
|
|
2.
|
VII
B
|
33
|
|
10
|
|
3.
|
VII
C
|
32
|
|
10
|
|
4.
|
VII
D
|
34
|
|
10
|
|
5.
|
VII
E
|
32
|
|
10
|
|
6.
|
VII
F
|
32
|
|
10
|
|
7.
|
VII
G
|
33
|
|
10
|
|
Jumlah
|
229
|
|
70
|
|
Tabel
2 : Ukuran sampel setiap Kelas
Ternyata setelah dilakukan pencarian
sampel setiap kelas dengan proposional didapat sampel sebesar 70. Kemudian
setelah diketahui ukuran sampel setiap kelas maka sampel diambil dari
masing-masing kelas dengan cara acak (sampel random sampling) sehingga setiap
siswa mendapat peluang yang sama untuk menjadi sampel.
D.
Instrument
penelitian
1.
Minat
Belajar
a.
Definisi
konseptual
Pada
hakekatnya secara psikis seseorang memiliki suatu kegiatan pada dirinya
berbeda-beda, misalnya motivasi, minat, bakat dan sebagainya. Sedangkan minat
sendiri merupakan ungkapan psikis yang sangat penting untuk mencapai suatu
kebutuhan manusia.[13]
Minat
adalah satu rasa lebih suka dan rasa keterikatan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh. Minat pada dasar adalah penerimaan akan suatu hubungan
antara diri sendiri.[14]
“Minat (interest) berarti kecendrungan dan
kegairahan yang tinggi atau keinginan yang besar terhadap sesuatu. Minat tidak
termasuk istilah popular dalam psikologi karena ketergantungannya yang banyak
pada factor-faktor internal lainnya seperti: pemusatan perhatian,
keingintahuan, motivasi, dan kebutuhan”.[15]
Minat
pada dasarnya adalah penerimaan akan sesuatu hubungan antara diri sendiri
dengan sesuatu di lur diri. Semakin kuat atau dekat hubungan tersebut, semakin
besar minatnya.[16]
Minat
mempunyai andil yang sangat besar dan dapat mempengaruhi tinggi rendahnya nilai
prestasi belajar dan kerja seseorang.[17]
Tanpa
adanya minat belajar, siswa tidak akan dapat menerima pelajaran yang diberikan
oleh guru secara maksimal, sehinnga tujuan pembelajaran tidak dapat tercapai
secara optimal.
“Sedangkan
belajar dapat didefinisikan sebagai suatu proses yang mana suatu
kegiatan berasal atau berubah lewat reaksi dari suatu situasi yang dihadapi,
dengan keadan bahwa karakteristik-karakteristik dari perubahan aktivitas
tersebut tidak dapat dijelaskan dengan dasar kecendrungan-kecendrungan reaksi
asli, kematangan, atau perubahan sementara dari organisme”.[18]
Belajar adalah perubahan disposisi atau kemampuan yang dicapai seseorang melalui aktivitas.
Perubahan disposisi tersebut bukan diperoleh langsung dari proses pertumbuhan
seseorang secara ilmiah.[19]
Belajar adalah perubahan perilaku yang terjadi sebagai buah dari kegiatan
belajar yang diperoleh oleh peserta didik melalui proses pembelajaran di kelas. Proses perubahan perilaku tersebut ditunjukkan
oleh peserta didik menjadi tahu, menjadi terampil, menjadi berbudi, dan menjadi
manusia yang mampumenggunakan akal pikirannya sebelum bertindak dan mengambil
keputusan untuk melakuakan sesuatu.[20]
Minat
belajar merupakan suatu sikap tertentu yang sangat pribadi pada seseorang yang
ingin belajar. Minat belajar harus ditumbuhkan sendiri oleh masing-masing anak.
Pihak lain hanya memperkuat, menumbuhkan dan memelihara minat yang telah
dimiliki seseorang.
Lester
& Alice Crow
dalam Loekmono mengemukakan lima butir motif penting yang dapat dijadikan
alasan–alasan untuk mendorong tumbuhnya minat belajar dalam diri seseorang
yakni:
1)
Suatu hasrat keras
untuk memperoleh nlai-nilai yang lebih baik dalam semua mata pelajaran
2)
Suatu dorongan batin
memuaskan rasa ingin tahu dalam satu bidang atau lain bidang studi
3)
Hasrat untuk
meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan pribadi
4)
Hasrat untuk menerima
pujian dari orang tua, guru dan teman-teman
5)
Gambaran diri di masa
mendatang untuk meraih sukses dalam bidang khusus tertentu.[21]
Dari
beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disintesis bahwa minat belajar adalah
pernyataan psikis yang membuat seseorang berkeinginan memusatkan perhatian
untuk mempelajari sesuatu guna mencapai tujuan belajar. Oleh karena itu seorang
guru dalam menyampaikan pelajaran harus mampu membuat siswa senang dalam
belajar. Dengan timbulnya minat yang besar maka besar juga usaha untuk
mempelajari pelajaran tersebut dan diharapkan siswa memperoleh hasil belajar
yang maksimal.
b.
Definisi
Operasional
Setiap
siswa yang menuntut ilmu harus memiliki konsentrasi dalam belajar. Konsentrasi
dalam belajar adalah pemusatan pikiran terhadap suatu mata pelajaran dengan
mengesampingkan semua hal lainnya yang tidak berhubungan dengan pelajaran
tersebut. Tanpa konsentrasi siswa tidak akan bisa menguasai pelajarannya.
Konsentrasi
tidak ada atau akan berkurang bilamana tidak terdapat minat yang memadai dalam
diri siswa tersebut. Dari situ dapat diketahui betapa pentingnya minat untuk
mencapai sukses dalam segala hal.
Tabel
3 ; Kisi-Kisi Minat Belajar
|
Variabel
|
Dimensi
|
Indikator
|
No.Item
|
Jumlah
|
|
|
+
|
-
|
||||
|
Minat
Belajar
|
a. Keinginan
dan Hasrat
|
· Adanya
keinginan untuk belajar
· Mengulang
pelajaran di rumah
|
1,2
4
|
3
5
|
5
|
|
b. Perhatian
dan ketertarikan
|
· Adanya
perhatian terhadap pembelajaran
· Ada
rasa ingin tahu terhadap materi yang tidak dimengerti
|
6,7
10,11
|
8,9
12,13
|
8
|
|
|
c. Kecenderungan
|
· Hadir
tepat waktu
· Mengerjakan
setiap tugas yang diberikan
|
14
16,17
|
15
18
|
5
|
|
|
d. Kepuasan
|
· Ingin
mendapat penghargaan dan pujian dalam belajar
· Adanya
harapan dalam mengikuti pelajaran dan cita-cita untuk sukses dalam belajar
· Ada
rasa bangga terhadap nilai yang tinggi
|
19
21
23,24
|
20
22
25
|
7
|
|
|
Jumlah
|
14
|
11
|
25
|
||
2.
Profesionalisme
Guru
a.
Definisi
Konseptual
Profesionalisme
berasal dari Bahasa Inggris Proffesionalism
yang secara leksikal berarti sifat professional. Menurut Jasin, Anwar
(Dalam Rahardjo , Dawam, 1997:35) profesionalisme dapat diartikan sebagai
komitmen para anggota suatu profesi untuk meningkatkan kemampuan profesionalnya
dan terus-menerus mengembangkan strategi-strategi yang digunakannya dalam
melakukan pekerjaan sesuai dengan profesinya.[22]
“…
profesionalisme adalah kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan yang berkaitan dengan mata pencaharian seseorang.
Profesionalisme guru merupakan kondisi, arah, nilai, tujuan, dan kualitas suatu
keahlian dan kewenangan dalam bidang pendidikan dan pengajaran yang berkaitan
dengan pekerjaan seseorang yang menjadi mata pencaharian”[23]
“Profesionalisme”
adalah sikap seorang professional yang menjunjung tinggi kemampuan
profesinya,ia akan bekerja dan mengerjakan sesuatu sesuai bidangnya.[24]
Profesional
adalah pekerjaan atau kegiatan yang dilakukan oleh seseorang dan menjadi sumber
penghasilan kehidupan yang memerlukan keahlian, kemahiran, atau kecakapan yang
memenuhi standar mutu atau norma tertentu serta memerlukan pendidikan profesi.[25]
Dari
beberapa pendapat para ahli diatas, dapat disintesis bahwa profesionalisme guru
artinya seseorang yang bekerja dengan keahlian serta kemahirannya dalam
mejalankan profesi sebagai seorang guru.
Guru
adalah jabatan professional yang memerlukan berbagai keahlian khusus. Sebagai
suatu profesi, jabatan guru menuntut kriteria professional sebagai berikut:
1)
Fisik
a)
Sehat Jasmani
b)
Tidak mempunyai cacat
tubuh yang bisa menimbulkan ejekan/cemooh atau rasa kasihan dari anak didik.
2)
Mental / kepribadian
a)
Berkepribadian.
b)
Berbudi pekerti
luhur.
c)
Berjiwa kreatif,
dapat memanfaatkan rasa pendidikan yang ada secara maksimal
d)
Mampu menyalurkan
sikap demokrasi dan penuh tenggang rasa
e)
Mampu mengembangkan
kreativitas dan tanggung jawab yang besar akan tugasnya.
f)
Mampu mengembangkan
kecerdasan yang tinggi.
g)
Bersifat terbuka,
peka dan inovatif.
h)
Menunjukkan rasa
cinta terhadap profesinya.
i)
Memiliki kedisiplinan
yang tinggi.
j)
Memiliki sense of humor
3)
Keilmiahan/pengetahuan
a)
Memahami ilmu yang
dapat melandasi pembentukan pribadi
b)
Memahami ilmu
pendidikan dan keguruan serta mampu menerapkannya dalam tugasnya sebagai
pendidik.
c)
Memahami, menguasai,
serta mencintai ilmu pengetahuan yang akan diajarkan.
d)
Memiliki pengetahuan
yang cukup tentang bidang-bidang yang lain.
e)
Senang membaca
buku-buku ilmiah.
f)
Mampu memecahkan
masalah secara sistematis, terutama yang berhubungan dengan bidang studi.
g)
Memahami prinsip
kegiatan belajar mengajar
4)
Keterampilan
a)
Mampu menyusun bahan
pelajaran atas dasar pendekatan structural, interdialpliner, fungsional,
behavior, dan teknologi.
b)
Mampu menyusun Garis
Besar Program Pengajaran (GBPP)
c)
Mampu memecahkan dan melaksanakan
teknik mengajar yang baik dalam mencapai tujuan pendidikan.
d)
Mampu merencanakan
dan melaksanakan evaluasi pendidikan.
e)
Memahami dan mampu
melaksanakan kegiatan dan pendidikan luar sekolah.[26]
b.
Definisi
Operasional
Profesionalisme
yang tinggi ditunjukkan oleh besarnya keinginan untuk selalu meningkatkan dan
memelihara citra profesi melalui perwujudan prilaku profesional. Perwujudan
dilakukan melalui berbagai cara, misalnya penampilan, cara bicara, penggunaan
bahasa, sikap hidup sehari-hari, hubungan antar pribadi, dan sebagainya.
Tabel 4 ; Kisi-Kisi
Profesionalisme Guru
|
Variabel
|
Dimensi
|
Indikator
|
No.Item
|
Jumlah
|
|
|
+
|
-
|
||||
|
Profesionalisme
guru
|
a. Kepribadian
dan tingkah laku
|
· Memiliki
disiplin yang tinggi
· Berpenampilan
rapi saat mengajar
· Bertanggung
jawab atas tugasnya
· Membimbing
siswa yang belum mengerti
|
1,2
4,5
7,8
11
|
3
6
9,10
12
|
12
|
|
b. Keahlian
dan pengetahuan
|
· Memahami
materi yang diajarkan
· Mampu
menjelaskan pelajaran dengan baik
· Mampu
menerangkan pelajaran dengan bahasa yang mudah dimengerti siswa
|
13,14
16
18,19
|
15
17
20
|
8
|
|
|
c. Keterampilan
dan kreativitas
|
· Menguasai
kelas dengan baik
· Memiliki
sense of humor
|
21
24
|
22,23
25
|
5
|
|
|
Jumlah
|
14
|
11
|
25
|
||
Pernyataan
yang peneliti ajukan berbentuk skala (Skala Likert). Setiap item pernyataan angket
diberikan lima alternatif jawaban, baik pernyataan positif maupun negatif
seperti yang terlihat pada tabel di bawah ini :
Tabel 5 : Penetapan Skor Jawaban
Angket
|
Pernyataan Sikap
|
Selalu (SS)
|
Sering (SR)
|
Kadang-Kadang (KK)
|
Hampir Tidak Pernah (HTP)
|
Tidak Pernah (TP)
|
|
Pernyataan
positif (+)
|
5
|
4
|
3
|
2
|
1
|
|
Pernyataan
negatif (-)
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
Sebelum angket disebarkan kepada sampel, maka terlebih dahulu diuji validitas dan
reliabilitas angket.
1.
Validitas Angket
Validitas adalah suatu ukuran yang menunjukkan tingkat
kevalidan atau kesahihan suatu instrumen. Suatu instrumen yang valid atau sahih
mempunyai validitas tinggi. Sebaliknya instrumen yang kurang valid berarti
mempunyai validitas rendah.[27]
Rumus yang digunakan untuk menghitung validitas adalah
korelasi product moment: [28]
Keterangan :
rxy =
Koefisien korelasi antara variabel X dan variabel Y
= Jumlah Skor asli variabel X
=Jumlah Skor asli variabel Y
N = Jumlah Subyek
= Jumlah perkalian X dengan Y
= Jumlah kuadrat nilai X
= Jumlah kuadrat nilai
Y
Kemudian
hasil rxy hitung
dikonsultasikan dengan r tabel dengan taraf signifikan 5 %. Jika didapatkan
harga rxy hitung > r tabel, maka butir instrumen dapat dikatakan
valid, akan tetapi sebelumnya jika harganya rxy < r tabel, maka
dikatakan bahwa instrumen tersebut tidak valid.[29]
2.
Reliabilitas Angket
Reliabilitas menunjuk pada suatu pengetian bahwa sesuatu
instrumen cukup dapat dipercaya untuk digunakan sebagai alat pengumpul data
karena instrumen tersebut sudah baik.[30]
Langkah – langkah mencari nilai reliabilitas dengan
metode Alpha sebagai berikut:
1.
Menghitung varians skor tiap-tiap item dengan rumus:
2.
Menjumlahkan varians semua item dengan rumus:
3.
Menghitung varian total dengan rumus:
4.
Masukkan nilai Alpha dengan
rumus:
E.
Teknik Analisis Data
Untuk
menguji kebenaran hipotesis dan menjawab rumusan yang telah diajukan maka
dilakukan analisis data. Namun sebelum analisis data lebih lanjut maka terlebih dahulu perlu
dilakukan uji normalitas, uji homogenitas, uji linieritas.
1.
Uji Normalitas, Uji Homogenitas, dan Uji Linieritas
a.
Uji Normalitas
Tujuan uji normalitas adalah untuk melihat sampel
berdistribusi normal atau tidak. Uji yang digunakan adalah dengan menggunakan
rumus uji Chi Kuadrat yaitu :
χ2 =
Langkah-langkah perhitungannya :
1)
Menentukan skor besar (H) dan skor kecil (L)
2)
Menentukan Rentangan (R)
R = H – L + 1
3)
Menentukan Banyaknya Kelas (BK)
BK = 1+ 3,3
log N
4)
Menentukan panjang kelas
(i)
i =
5)
Menentukan rata-rata atau mean (
)
=
6)
Menentukan simpangan
baku (S)
S
=
7)
Membuat daftar yang
diharapkan dengan jalan sebagai berikut :
a)
Menentukan batas
kelas yaitu angka skor kiri kelas interval pertama dikurangi 0,5 dan kemudian angka skor kanan
kelas interval ditambah 0,5.
b)
Mencari nilai Z-Score untuk batas kelas interval dengan rumus:
Z =
c)
Mencari luas 0-Z dari tabel kurva normal dari 0-Z dengan menggunakan
angka-angka untuk batas kelas.
d)
Mencari luas setiap kelas interval dengan jalan mengurangkan angka-angka
0-Z, yaitu angka baris pertama dikurangi baris kedua, angka baris kedua
dikurangi baris ketiga dst.
e)
Mencari frekuensi yang diharapkan (fe) dengan cara mengalikan luas
tiap interval dengan jumlah responden.
f)
Mencari Chi kuadrat (χ2 hitung) dengan rumus :
(χ 2)
=
g)
Membandingkan (χ 2hitung ) dengan (χ 2tabel),
db = k - 3, dan α = 0,05
Jika,
χ2hitung ≥ χ 2tabel, maka
distribusi data tidak normal,
Jika,
χ 2hitung ≤ χ
2tabel maka distribusi data normal.[32]
b.
Uji Homogenitas
Uji homogenitas dilakukan untuk melihat
apakah kedua kelompok sampel mempunyai varians yang homogen atau tidak. Uji
homogenitas yang penulis gunakan adalah uji bartlet.
Langkah
perhitungannya :
1)
Masukkan angka-angka statistik untuk pengujian homogenitas pada tabel Uji
Bartlet.
2)
3)
Menghitung varians dengan rumus :
S2 =
4)
Menghitung log S2
5)
Menghitung nilai B = (log S2).∑(ni-1)
6)
Menghitung nilai χ2hitung = (log 10)[B - ∑ (db) log Si2]
7)
Bandingkan χ 2hitung dengan nilai χ 2tabel,
untuk α = 0,05 dan derajat kebebasan
(db) = k – 1, dengan kriteria pengujian sebagai berikut :
Jika : χ 2hitung ≥ χ 2tabel,
tidak homogen
Jika : χ 2hitung ≤ χ 2tabel, homogen.[33]
c.
Uji Linieritas Regresi
Uji linearitas regresi pada penelitian ini menggunakan
rumus anava, dengan langgah-langkah sebagai berikut :
1.
Menentukan jumlah kuadrat regresi
dengan rumus
2.
Menentukan jumlah kuadrat regresi
dengan rumus
3.
Menentukan jumlah kuadrat residu
dengan rumus
4.
Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi
dengan rumus
5.
Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi
dengan rumus
6.
Menghitung rata-rata jumlah kuadrat regresi
dengan rumus
7.
Menghitung jumlah kuadrat error
dengan rumus
8.
Menghitung jumlah kuadrat tuna cocok
dengan rumus
9.
Menghitung rata-rata jumlah kuadrat tuna cocok
dengan rumus
10.
Menghitung rata-rata jumlah kuadrat error
dengan rumus
11.
Mencari nilai
dengan rumus
12.
Menentukan Keputusan Pengujian : Jika
≤
, artinya data berpola linier dan jika
≥
, artinya data berpola tidak linier
13.
Mencari nilai
menggunakan tabel F
dengan rumus
14.
Membandingkan nilai
dengan
, kemudian disimpulkan.[34]
2.
Teknik Korelasi Kontingensi
Analisis data
yang dimaksud untuk melakukan pengujian hipotesis dan menjawab permasalahan
yang telah diajukan. Variabel dalam penelitian ini adalah skor profesionalisme
guru sebagai variabel X dan skor minat belajar sebagai variabel Y.
Dalam penelitian
ini, untuk mencari ada tidaknya hubungan yang signifikan antara variabel X dan
variabel Y digunakan rumus koefisien korelasi kontingensi (C).[35]
Keterangan :
C = Koefisien Kontingensi
= Kai
Kuadrat
N = Jumlah Data
dapat
diperoleh dengan menggunakan rumus :
Untuk memberikan interpretasi
kepada angka indeks korelasi kontingensi (C), terlebih dahulu mengubah harga C
menjadi phi, dengan rumus :
Keterangan :
=
Koefisien Phi
C = Koefisien Kontingensi
F.
Hipotesis
statistic
:
berarti
tidak ada hubungan yang signifikan antara profesionalisme guru dengan minat
belajar matematika siswa.
:
“tidak sama dengan nol”, berarti
lebih besar atau kurang (-) dari nol. Berarti ada hubungan yang signifikan antara
profesionalisme guru dengan minat belajar matematika siswa.
G.
Jadwal
Penelitian
Jadwal
penelitian ini dirancang untuk
memudahkan penulis dalam melakukan penelitian, maka peneliti menyusun agenda
penelitian secara sistimatis seperti
terlihat pada tabel berikut.
Tabel 6 :
Jadwal Penelitian*
|
No
|
Kegiatan
|
Bulan
|
|||||||||||||||||||||
|
Januari 2013
|
Febuari 2013
|
Maret
2013
|
April 2013
|
Mei 2013
|
|||||||||||||||||||
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
5
|
1
|
2
|
3
|
4
|
1
|
2
|
3
|
4
|
|||
|
1
|
Pembuatan
proposal
|
√
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
2
|
Pengurusan
dosen pembimbing
|
|
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
3
|
Perbaikan
proposal
|
|
|
|
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
4
|
Seminar
proposal
|
|
|
|
|
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
5
|
Perbaikan
hasil seminar proposal
|
|
|
|
|
|
|
√
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
6
|
Riset
lapangan
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
√
|
√
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
7
|
Penyusunan
data
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
8
|
Penulisan
skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
√
|
√
|
√
|
|
|
|
|
|
|
9
|
Perbaikan
skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
√
|
√
|
|
|
|
|
10
|
Penyempurnaan
skripsi
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
|
√
|
|
|
*jadwal bisa berubah sewaktu-waktu sesuai kondisi
dan kebutuhan
[2] Kunandar, Guru
Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses
dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2009.
[3] http://edukasi.kompasiana.com/2010/04/11/motivasi-dan-minat-belajar-siswa/,
[diakses tanggal 13 Februari 2011 pkl. 13:21]
[4] Fachruddin Saudagar dan Ali Idrus. Pengembangan Profesionalitas Guru, Jakarta: Gaung persada, 2009, h. 96
[5] Kunandar, Guru
Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses
dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2009 , h.46
[7] Kunandar.
Guru Profesional Implementasi Kurikulum
Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses dalam Sertifikasi Guru,
Jakarta: Rajawali Pers, 2009, hlm. 42
[8] Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan R & D, Bandung:
Alfabeta, 2010, hlm. 96
[9] Sugiyono, Op. Cit. hlm. 117
[10] Dokumentasi SMP
Negeri 10 merangin
[11] Suharsimi Arikunto,
Op.Cit, h.111
[12] Dr. Ridwan, M.B.A.,
M.Pd. Metode dan Teknik Menyusun Tesis, Bandung: Alfabeta, 2010. Hlm.65
[13]http://www.pdfgemi.com/download/PENGARUH+FAKTOR+INTERN+DAN++FAKTOR+EKSTERN+TERHADAP+MINAT+BELAJAR+...-UURL-digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH0164/b2428c0f.dir/doc.pdf.html,
[diakses
tanggal 13 Juni 2012 pkl. 13:10]
[15] Muhibbin Syah. Psikologi Belajar, Jakarta: Rajawali Pres, 2010, Hlm.152
[18] Iskandar, Psikologi Pendidikan (Sebuah orientasi
Baru). Ciputat : Gaung Persada Press. 2009. hlm.102
[19] Ibid. hlm. 2
[20] Abdul Hadis dan
Nurhayati, Op.Cit, hh.2-3
[21]http://www.pdfgemi.com/download/PENGARUH+FAKTOR+INTERN+DAN++FAKTOR+EKSTERN+TERHADAP+MINAT+BELAJAR+...-UURL-digilib.unnes.ac.id/gsdl/collect/skripsi/index/assoc/HASH0164/b2428c0f.dir/doc.pdf.html,
[diakses tanggal 13 Juni 2012 pkl. 13:10]
[22] Fachruddin Saudagar dan Ali Idrus. Pengembangan Profesionalitas Guru, Jakarta: Gaung persada, 2009, h. 96
[23] Kunandar, Guru
Profesional Implementasi Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP) dan Sukses
dalam Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers, 2009 , h.46
[24]
http://geografi.upi.edu/?mod=article/view/12, [diakses tanggal 13 Juni 2012
pkl. 13:50]
[26] Hartono M. Joko
Susito. Pemberontakan Guru Menuju
Peningkatan Kualitas. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Hh.34-35
[27] Suharsimi Arikunto, Op.Cit.,
hlm 144
[28] Anas Sudijono. Pengantar Statistik Pendidikan,Jakarta:
PT. Raja Grafindo Persada, 2009, hlm.275
[29] Ibid
[30] Ibid, hlm
154
[31] Dr. Ridwan, M.B.A.,
M.Pd. Belajar Mudah Penelitian,
Bandung: Alfabeta, 2011. Hlm.115
[34] Riduwan. Belajar Mudah Penelitian untuk Guru-
Karyawan dan Peneliti Pemula. Bandung : Alfabeta, 2011, hlm.126-129
[35] Anas Sudijono. Op.Cit, hh.253-257
[36] Sugiyono, Metode
Penelitian Pendidikan ( pendekatan Kuantitatif, kualitatif dan R&D),
(Bandung: Alfabeta, 2012) ,hlm 104